Jumat, 07 November 2008

Karakter yang harus dimiliki untuk menjadi seorang Entrepreuneur



1. Berapa besar komitmen ?
Seorang entrepreneur sukses memiliki komitmen yang besar terhadap bisnisnya. Mudah dipahami memang, tapi sulit dalam prakteknya. Jika anda masih berangan-angan memiliki bisnis sendiri dan belum memulainya, barangkali anda mesti memperkuat komitmen anda dan siap dengan segala resikonya. Bagaimanapun, tak satupun bisnis di dunia ini yang aman dari resiko. Walaubegitu, resiko juga bisa dimanajemen bukan?! :-)

2. Apakah gelas anda setengah penuh atau setengah kosong?
Tidak semua orang optimis adalah entrepreneur, tetapihampir semua entrepreneur adalah orang-orang optimis.Setiap entrepreneur biasanya memiliki kemampuan melihatkesempatan positif dari suatu tantangan situasi. Tanpa keyakinan optimistis, maka akan sulit memotivasi karyawan,bertahan pada masa-masa sulit dan mengembangkan bisnis.

3. Apakah anda senang membuat keputusan?
Keputusan berarti komitmen. Keputusan yang salah bisa mengarah pada masalah dan menghilangkan rasa hormat dari suatu kelompok. Memiliki sebuah bisnis -khususnya yang modalnya tidak besar-berarti harus siap membuat keputusan dengan market researchterbatas dan informasi yang kurang lengkap. Nah, kira-kira apakah anda senang membuat keputusan-keputusan demikian?

4. Apakah anda memiliki uang untuk membuat cita-cita bisnis anda terwujud?
Jangan berhenti dulu dari pekerjaan sehari-hari, sampai anda memiliki modal yang cukup untuk kelangsungan bisnis.Memenuhi kebutuhan keuangan untuk bisnis tidaklah mudah dan perlu pengorbanan pribadi apakah itu dari tabungan, pinjaman bank,dll-. Anda juga harus siap jika ternyata ada yang tidak berjalan sesuai rencana. Nah, apakah anda sanggup menyokong kelangsungan business plan agar bisnis anda tetap bertahan?

5. Apakah anda senang menjual?
Dalam bisnis, penjualan adalah bagian alami dari segala pekerjaan bahkan jika mereka tidak pernah bekerja di bidang penjualan sekalipun-. Sebagai seorang entrepreneur, pekerjaan anda adalah 'menjual'. Menjual produk anda, visi perusahaan dan diri anda sendiri. Dan anda harus melakukan ini setiap hari, dalam setiap waktu. Jika anda menikmatinya, anda memang seorang entrepreneur sejati. :-)

Jika anda menjawab YA pada sebagian besar pertanyaan-pertanyaan di atas, berarti anda memiliki karakter entrepreneur dan siap untuk memiliki bisnis sendiri. Tetapi jika sebagian besar jawabannya adalah TIDAK,sebaiknya pertimbangkan untuk menggaet partner bisnis untuk membantu membuat rencana bisnis anda menjadi kenyataan. :-)

Rabu, 05 November 2008

Coba cek situs berikut :

Kategori : News
http://www.detik.com/
http://www.republika.co.id/
http://www.okezone.com/
http://www.metrotvnews.com/
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/home-page/index.php

Kategor : Financial
http://www.depkeu.go.id/Ind/Currency/
http://finance.yahoo.com/currency/convert?amt=1&from=EUR&to=IDR&submit=Convert
http://www.bankmandiri.co.id/
http://www.muamalatbank.com/

Katogori : Politik
http://pk-sejahtera.org/
http://www.calegindonesia.com/
http://www.partaidamaisejahtera.com/
http://www.ppp.or.id/
http://www.amanatnasional.com/

Kategori : Karir
http://www.karir.com/
http://www.jobsdb.com/
http://www.jobplaza.co.id/

Kategori : Islam
http://www.dakwatuna.com/
http://www.al-islam.com/
http://www.eramuslim.com/
http://www.muslimheritage.com/

Kategori : Universitas
http://pasca.mercubuana.ac.id/
http://www.pts.co.id/
http://www.buseco.monash.edu.au/
http://www.fe.ui.ac.id/
http://www.pasekon.ui.ac.id/
http://www.gc.cuny.edu/
http://www.utexas.edu/
http://universitas.us/
http://bschool.nus.edu.sg/
http://www.nus.edu.sg/
http://www.um.edu.my/
http://www.ukm.my/malay/
http://www.unimelb.edu.au/
http://www.monash.edu/
http://www.anu.edu.au/index.php

Kategori : Beasiswa
http://www.iief.or.id/
http://www.scholarship-position.com/
http://www.academictransfer.org/org/
http://www.jobs.ac.uk/
http://groups.yahoo.com/group/beasiswa/
http://beasiswaluarnegeri.com/australia_australian_development_scholarships_ads_2009

Kategori : Lembaga Pemerintah
http://www.kpk.go.id/
http://ditnaga-dikti.org/
http://www.ditpertais.net/
http://www.jabar.go.id/

Kategori : Bisnis
http://sebelasribu.com/terima-kasih/tentang-asian-brain/

Kategori : Komputer & Teknologi
http://www.komputer-teknologi.net/

Kategori : Perusahaan
http://www.astra.co.id/

Kategori : Teman
http://havara2008.blogspot.com/
www.talentamedia.com

Kategori : Lain - Lain
http://www.bukabuku.com/
http://translate.google.com/translate_t#
http://www.muri.org/
http://www.indotravelers.com/
http://hoteldibandung.com/

Memahami Type Karyawan

Oleh : Feisal Assegaf

Karyawan adalah asset perusahaan yang perlu kita jaga dan terus menerus dioptimalkan potensi dirinya.

Sebuah perusahaan bila ingin sukses, harus bisa menganalisa dan mengetahui profil setiap karyawan yang bekerja di setiap lini dan bagian sehingga dengan mengenali type karyawan yang ada di organisasi kita, maka akan lebih mudah untuk menata organisasi kita dalam rangka mencapai tujuan perusahaan.

Ada beberapa type karyawan yang harus kita ketahui :

Type Star……, Karyawan type ini memiliki karakteristik yakni potensi dan kinerjanya selalu tinggi. Type ini bila ditempatkan dimana saja akan selalu berusaha untuk mencapai target yang diberikan kepadanya, dan biasanya selalu berhasil.

Type Career Person………., Karyawan type ini memiliki karakteristik dimana potensinya biasa-biasa saja, akan tetapi kinerjanya selalu bisa mencapai target. Karyawan type ini harus lebih dieksplorasi potensi yang ada pada dirinya sehingga bisa mencapai target yang lebih besar lagi. Motivasi dan bimbingan perlu dilakukan oleh atasannya agar dia berusaha untuk terus meningkatkan potensinya. Dan bukan tidak mungkin karyawan type ini suatu saat bisa berubah menjadi type Star.

Type Employee Problem………………, Karyawan type ini memiliki potensi yang tinggi akan tetapi kinerjanya rendah. Biasanya ada beberapa penyebab yang menjadikan karyawan ini berkinerja rendah, seperti pekerjaan yang diberikan kepadanya tidak cocok dengan potensi si karyawan itu sendiri. Atau adakalanya hubungan yang tidak harmonis dengan atasannya. Bila kita menemukan karyawan type ini harus segera diberikan solusinya dengan cara mengenali terlebih dahulu apa yang menjadi permasalahannya sehingga bisa dicarikan solusinya. Bila ditempatkan di bagian yang cocok dengan potensinya, maka karyawan type ini akan lebih termotivasi dan kinerjanya bisa meningkat kembali.

Type DeathWord………………, Karyawan type ini memiliki potensi yang rendah serta kinerja yang rendah pula. Biasanya type ini bila diberikan pekerjaan yang porsinya lebih banyak lagi, maka dia akan terbebani dan tidak bisa menyelesaikan pekerjaannya dengan baik. Karyawan type ini akan sulit untuk berkembang mengingat potensi dan kinerjanya yang tidak sesuai dengan target perusahaan. Namun adakalanya type karyawan seperti ini dibutuhkan untuk beberapa bagian yang relative tidak membutuhkan pemikiran yang berat dan lebih menekankan kepada ketekunan saja. Di setiap perusahaan, ada bagian tertentu yang bisa diberikan kepada karyawan type ini.


Feisal AssegafKonsultan SDM dan Perencana Kehumasan

Menangkap Peluang

Oleh : Feisal Assegaf

Momentum adalah sebuah kesempatan yang tidak boleh disia-siakan oleh siapa pun, termasuk karyawan.

Ada sebagian karyawan ketika diberikan tugas, menganggap bahwa hal itu justru menambah beban pekerjaan, padahal bila diamati secara mendalam, pastilah ada manfaat yang berguna buat si karyawan itu sendiri.

Paling tidak, karyawan mengetahui bagaimana menyelesaikan pekerjaan tersebut serta cara-cara apa saja yang bisa dilakukan untuk menyelesaikannya.

Dari sinilah, si karyawan bertambah pengetahuannya, karena telah menyelesaikan pekerjaan dengan baik. Dan bukan tidak mungkin suatu saat ketika dia pindah bagian, atau organisasi berubah, maka itu menjadi salah satu asset yang berharga bagi si karyawan itu sendiri.

Peluang biasanya tidak akan datang dua kali. Dan kalau pun datang kembali biasanya butuh waktu lama. Ketika peluang itu datang kembali untuk yang kedua kalinya, maka proses untuk mendapatkan peluang tersebut, pasti akan dua kali lebih sulit dibandingkan dengan yang pertama

Ada beberapa alasan mengapa hal itu menjadi lebih sulit didapat :

Faktor usia……………., pada saat peluang itu muncul kembali, maka tentunya usia kita juga akan bertambah, dan ini menjadi satu kendala bagi kita bila peluang itu membutuhkan kecepatan dalam menyelesaikan, kecuali apabila kita pada saat hilangnya kesempatan yang pertama, Anda menjadi lebih baik lagi dan bertambah wawasannya.

Faktor pesaing………., Sudah pasti ketika peluang itu datang untuk yang kedua kali, pesaing-pesaing yang harus dihadapi, jauh lebih banyak dan lebih terdidik dari segi pendidikan, kecepatan maupun kemampuan intelegensinya. Artinya secara penglaman bisa saja mereka kalah dengan kita, akan tetapi secara pendidikan, kecepatan dan juga intelegensinya, mereka bisa jadi lebih baik daripada kita.

Faktor Psikologis………………,Sebagian dari karyawan, akan memandang bahwa factor ini menjadi berpengaruh dalam memperoleh peluang yang datang untuk yang kedua kalinya. Biasanya ada semacam perasaan khawatir ketika melihat para pesaing yang akan dihadapi. Dan bukan tidak mungkin si karyawan merasa kalah sebelum berperang akibat adanya perasaan semacam ini, yakni kurang ”percaya diri”.

Jadi…………., jangan biarkan peluang hilang begitu saja pada saat ada di hadapan kita, raihlah dan manfaatkan secara maksimal peluang tersebut. Jangan takut akan kegagalan, sebab dengan memanfaatkan peluang tadi, Anda akan belajar; bagaimana mengatasinya, kalau memang peluang tersebut belum mampu diraih secara maksimal.

Tidak ada istilah gagal dalam memanfaatkan peluang....... yang ada hanyalah kita belum optimal dalam mengeksplorasi potensi yang dimiliki. Ingatlah orang-orang sukses juga pada awalnya mengalami hal semacam ini.

Tips Untuk Anda,
Ambil peluang itu dan Anda pasti mendapatkan hasilnya....cepat atau lambat.

Trik Untuk Sukses
Cari strategi yang tepat untuk memaksimalkan peluang tersebut agar berhasil dengan baik. Tanya kepada karyawan yang pernah mengerjakan dan cari apa saja kendalanya pada saat menghadapi peluang tersebut.

Selamat Mencoba



Feisal Assegaf

Senin, 27 Oktober 2008

Review Buku : Escape Rat Race" Karangan : Robert T. Kiyosaki & Sharon L. Lechter

Review Buku : Escape From The Rat Race" Karangan : Robert T. Kiyosaki & Sharon L. Lechter


Berikut ini review dari buku " ESCAPE FROM THE RAT RACE "
Buku ini sangat menarik untuk dibaca, dimana tampilan buku ini tidak membosankan karena berbentuk komik, materi pembahasan sangat menarik serta penggunaan bahasa yang mudah untuk dicerna.
Silakan simak ringkasannya dibawah ini.
Cerita ini berawal dari kejadian di suatu lokasi wahana hiburan, dimana Tim, Red dan Tina bermaksud untuk menaiki salah satu wahana. Namun, ternyata Tim sudah tidak memiliki uang lagi untuk membeli tiket wahana tersebut.
Tim melihat Red selalu memiliki uang, akhirnya dia mendapatkan ide untuk bekerja agar memiliki uang yang banyak sehingga dapat membeli barang-barang yang disukainya. Tetapi, hingga keinginan Tim untuk bekerja diketahui Red, Red menjelaskan bahwa bekerja tidak dapat menjadi kaya, hal ini seperti yang dialaminya pada waktu yang lalu. Dimana, meskipun Red sudah bekerja dengan sekuat tenaga dengan mengorbankan segala hal, namun hasilnya tetap saja. Akhirnya, Red menceritakan mengenai kecerdasan financial ( Financial IQ ).

Lalu Red menceritakan dari buku yang dibacanya berjudul “Rich Dad Poor Dad” tulisan Robert T. Kiyosaki.

Saat Robert masih kecil.

Pada suatu hari Robert bertanya kepada ayahnya mengenai bagaimana supaya menjadi orang kaya, ayah Robert hanya memberikan penjelasan yang sedikit mengenai cara mencari uang, hingga akhirnya agar Robert belajar kepada ayah dari temannya yang bernama Mike. Robert dan Mike berkunjung ke tempat kerja ayah Mike, ayah Mike menawarkan pekerjaan pada mereka berdua. Hingga saat itu, mulailah Robert dan Mike bekerja sebagai karyawan ayahnya Mike. Mereka dibayar dengan upah yang sangat rendah, hingga seiring dengan waktu berjalan, beberapa minggu kemudian Robert tersadar bahwa ia seperti sedang dalam perbudakkan dan memutuskan untuk nengundurkan diri. Ketika bertemu dengan ayah Mike, Robert langsung mengutarakan keinginannya untuk mundur. Tetapi ayah Mike tetap ingin Robert belajar kepadanya. Ayah Mike mencoba memberikan penawaran kepada Robert dengan menaikkan upah. Akhirnya ayah Mike memberikan pelajaran serta nasihat-nasihat yang baik kepada Robert mengenai pandangan hidup dan memberikan saran kepada Robert agar mulai mencari peluang. Pada akhirnya Robert mendapatkan peluang dengan melakukan usaha dalam perpustakaan komik. Mulai saat itulah, Robert dapat memulai usaha bisnisnya sendiri.

Setelah selesai cerita tersebut, kembali Red mengingatkan Tim agar pandai dalam mencari peluang, sambil terus meningkatkan kemampuannya baik melalui media buku ataupun dari internet.

Red memberikan penjelasan mengenai laporan keuangan, cashflow, struktur neraca serta laporan pendapatan.dan pengeluaran. Serta strategi dalam dalam mengoptimalkan komponen-komponen tersebut.

Beberapa saat kemudian, Tim akhirnya mendapatkan peluang usaha dengan melakukan usaha dalam menjual es krim di area tempat hiburan, karena dia melihat peluang tersebut cukup baik. Hingga akhirnya Tim berhasil melaukan bisnisnya sendiri.

Beberapa hal menarik yang dapat dijadikan pelajaran :
Untuk menjadi kaya ----------à diperlukan otak yang cerdas.
Untuk menjadi kaya ----------à harus berani berbuat.
Gaji -----------------------------à bukan ukuran kekayaan.
Entrepreneur -------------------à harus pandai mencari peluang.
Entrepreneur -------------------à harus memiliki tingkat financial IQ yang baik.
Orang kaya --------------------à orang yang dapat hidup dengan asetnya, meskipun
Dia tidak bekerja.

Resume by : Maikel
NIM : 55107120132
Mata Kuliah : Entrepreneurship
Dosen : DR. Ade Ahmad Rozi,MBA.

Jumat, 24 Oktober 2008

EMPLOYEESHIP



Bahaya, rumit, kekacauan, merupakan situasi yang terlintas dalam benak kita bila mendengar kata krisis. Krisis moneter, politik, kepemimpinan mungkin sudah biasa.
Bagaimana dengan ”KRISTIN” (Krisis baTin) atau KRISyE (Krisis Energi /motivasi) ? Kedua krisis inilah yang tanpa disadari sebagai sumber menurunnya produktivitas sebuah perusahaan. Dimana ada kesulitan disitu ada kesempatan / peluang. Dimana bila kita memiliki energi yang tinggi ketika perusahaan mengalami angin kencang atau badai, kita bukannnya menunggu atau berlindung sampai reda, melainkan membangun kincir angin untuk menghalaunya.
Lantas bagaimana mengukur dan mengarahkan energi yang kita gunakan untuk diri kita sendiri, organisasi, tim secara keseluruhan? Untuk itulah beberapa bulan yang lalu MDI(Management Development International) mengangkat topik EMPLOYEESHIP.
Bagaimana menanamkan budaya Employeeship pada perusahaan kita bekerja ?.
Berikut ringkasan yang disampaikan oleh Bp. Benny S Utama (Senior Trainer dari MDI) sebagai pembicara pada pertemuan tersebut.

Buku mengenai leadership, bagaimana menjadi seorang pemimpin yang baik banyak sekali ditemui. Namun, buku bagaimana menjadi karyawan yang baik masih jarang ditemui. Hal inilah yang membuat Claus Moller, menciptakan sebuah buku dan lokakarya ”employeeship”. Inti dari Employeeship sebenarnya sama dengan ’ship’ yang lainnya : leadership, partnership, membership dan friendship. Bagaimana menjadi pemimpin, partner, anggota dan teman yang baik. Inti dari buku dan lokakarya tersebut adalah untuk semua. Manajer Puncak, manajer madya, supervisor, dan pelaksana/operator, mereka adalah semua karyawan yang baik.

Banyak manfaat yang diperoleh bila kita menjadi Employeeship. Kita akan diberikan kepercayaan untuk menerima tanggung jawab dan kebebasan dalam bertindak. Jaminan pekerjaan yang lebih baik, kesempatan peningkatan kerja dan promosi. Jadi UUD (Ujung-ujungnya Duit), semakin tinggi jabatannya akan semakin tinggi pula penghasilan kita. Tidak hanya itu, hubungan dengan atasan, rekan kerja dan bawahan akan lebih baik. Begitu pula dengan harga diri dan kepercayaan diri akan menjadi lebih tinggi. Kehidupan akan lebih bervariasi dan lebih berarti.

Dalam sepakbola tim yang sukses adalah mereka yang memiliki komitmen bersama yaitu menang meskipun mereka memilki ketrampilan dan latar belakng yang berbeda-beda. Adanya satu tujuan, komunikasi, komitmen, tanggung jawab masing-masing pemain, dengan sendirinya akan tercipta tim spirit. Mereka akan lebih percaya diri, bersemangat, memilki energi berlebih untuk satu tujuan, yaitu MENANG! Budaya Employeeship telah tertanam pada tim tersebut. Betapa luar biasanya bila perusahaan kita telah memiliki budaya Employeeship seperti tim sepakbola tersebut. Employeeship muncul jika setiap orang mengarahkan energi pribadi, tim/departemen dan organisasi untuk mencapai sasaran.

Tidak ada pemain sepakbola yang menginginkan menjadi pemain yang dijual, dibangkucadangkan, atau dipinjamkan. Mereka semua menginginkan menjadi pemain inti, ini berati mereka mapu dan mau bermain. Begitupun dengan karyawan, mereka tidak mau dimutasi atau di PHK, karyawan yang dimutasi atau diPHK berarti ia masuk pada kategori karyawan yang tidak mampu dan tidak mau melaksanakan tugas. Sedangkan karyawan yang mampu tapi tidak mau, perlu diberikan motivasi, dukungan dan tantangan. Karyawan yang tidak mampu tapi mau sebaiknya dilatih, dikembangkan dan juga didukung. Beri tanggung jawab kebebasan bertindak, dan tantangan baru diperuntukkan bagi mereka yang mampu dan mau.

Produktivitas, hubungan dan kualitas merupakan landasan sukses organisasi. Meningkatnya produktivitas maka profit yang didapat oleh perusahaanpun akan meningkat dan menjadi perusahaan yang sukses. Hubungan atasan, rekan kerja, bawahan, dan pelanggan akan semakin tercipta. Meningkatnya ekspektasi keinginan dari pelanggan dapat menciptakan produk-produk yang berkualitas tinggi.

Seringkali kita mengkambinghitamkan seorang direktur atau manajer bila perusahaan mengalami penurunan. Produktivitas, hubungan dan kualitas merupakan tanggung jawab kita bersama. Jadi menciptakan budaya Employeeship itu penting sekali yaitu dengan menciptakan komitmen bersama dengan tujuan mensukseskan perusahaan.

Tanggung jawab, loyalitas, dan inisiatif merupakan tiga elemen mendasar untuk menjadi karyawan yang baik. Terkadang kita mengabaikan hal-hal kecil yang merupakan tanggung jawab kita. Sebagai contoh menunda pekerjaan, lupa mematikan komputer, AC, membuang sampah sembarangan dan sebagainya. Apajadinya apabila kita lupa akan tanggung jawab kita ? Tentu semua akan mengalami dampaknya. Perusahaan yang berbudaya Employeeship, semua bertanggung jawab terhadap keberhasilan dan kegagalan perusahaan.

Seorang yang loyal tentunya akan senang jika perusahaannya sukses. Ia akan bertindak jika perusahaannya terancam, dan akan membicarakan hal-hal positif mengenai perusahaannya. Memberikan kritik membangun dan pandai menyimpan kritik. Tidak seperti yang terjadi yang bangyak terjadi, kita justru mengkritik dan menjatuhkan perusahaan. Jadi loyalitas dalam perusahaan berbasis Employeeship maksudnya adalah semua anggota perusahaan loyal terhadap tujuan, manajemen, rekan dan pelanggan (stakeholder). Sedangkan Inisiatif dalam perusahaan berbudaya Employeeship adalah semua anggota berinisiatif mengembangkan produktivitas, hubungan, dan kualitas perusahaan. Apakah kita mempunyai inisiatif untuk proaktif terhadap produktivitas, hubungan dan kualitas ? Implementasinya bagaimana dari ide menjadi tindakan, dari bicara menjadi berjalan ”walk to talk”. Niat menjadi perilaku, dari ”apa” menjadi ”siapa”, ”bagaimana” dan ”kapan”. Seringkali terabaikan adalah menyelesaikan dan menuntaskan.Segala hambatan harus dihapuskan seperti ode-ide yang cemerlang dianggap gila, diejek dan sebagainya